HUBUNGAN ASUPAN ENERGI DENGAN KEJADIAN STUNTING PADA BALITA USIA 2-5 TAHUN KOTA PEKANBARU



lidia fitri(1*), evis ritawani(2), Yollanda Mentiana(3)

(1) Akademi Kebidanan Helvetia Pekanbaru
(2) Akademi Kebidanan Helvetia Pekanbaru
(3) Akademi Kebidanan Helvetia Pekanbaru
(*) Corresponding Author

Abstract


Stunting (Balita Pendek) adalah masalah kurang gizi kronis karena asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup lama. WHO mencatat 22% balita dengan stunting di seluruh dunia dan  prevalensi stunting di Indonesia sebesar 37,2%. Penyebab stunting secara langsung yaitu tidak ASI eksklusif, penyakit infeksi, asupan makanan dan berat badan lahir. Survei di Puskesmas Lima Puluh kota Pekanbaru didapatkan 6 balita stunting dan kebutuhan energi keenam balita belum tercukupi. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui hubungan antara asupan energi dengan kejadian stunting pada balita usia 2-5 tahun di Puskesmas Limapuluh Kota Pekanbaru. Jenis penelitian analitik kuantitatif dengan desain case-control. Populasi berjumlah 32 orang balita usia 2-5 tahun dimana sampel terdiri dari 16 orang balita stunting  dan 16 orang sebagai kontrol. Analisis data secara univariat dan bivariat dengan menggunakan uji chi square. Hasil penelitian didapatkan 13 orang (81,2%) balita dengan stunting memiliki asupan energi yang kurang. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa terdapat hubungan bermakna antara asupan energi dengan kejadian stunting p value  = 0,001 ≤ α 0,05 di Puskesmas Limapuluh. Dapat disimpulkan terdapat hubungan antara asupan energi dengan kejadian stunting, maka Ha diterima.

 

Stunting (Short Toddler) is a chronic malnutrition problem because of the lack of nutrition in a long time. WHO records 22% of children under five with stunting worldwide and the prevalence of stunting in Indonesia is 37.2%. The direct causes of stunting are not exclusive breastfeeding, infectious diseases, food intake and birth weight. A survey in Limapuluh Health Center Pekanbaru found 6 stunting toddlers and the energy needs of the six toddlers have not been fulfilled. This research is to find-out the correlation between energy intake and the incidence of stunting in infants aged 2-5 years where the sample consisted of 16 stunting toddlers and 16 controls. This study was a quantitative analysis used case-control. Population consist of 32 toddlers aged 2-5 years. Analysis univariat and bivariate was performed using the chi square test. The results were 13 people (81.2%) toddlers with stunting have less energy intake. There was a significant association between energy intake and the incidence of stunting p value = 0.001 α α 0.05 at the Limapuluh Health Center. There is a relationship between energy intake and the incidence of stunting, the Ha is accepted

 

 


Keywords


Stunting, Energy intake

Full Text:

PDF INDONESIA

References


Indonesia Tahun 2017. 2018, p. 496.

Kementerian Kesehatan RI. (2014). Pedoman Umum Gizi Seimbang. Pedoman Umum Gizi Seimbang.

Latner, J. D., & Stunkard, A. J. (2003). Getting worse: The stigmatization of obese children. Obesity Research. https://doi.org/10.1038/oby.2003.61

MCA-Indonesia. (2014). Stunting dan Masa Depan Indonesia.

Nabuasa, C. D. (2012). Hubungan Riwayat Pola Asuh, Pola Makan, Asupan Zat Gizi Terhadap Kejadian Stunting Pada Anak Usia 24 – 59 Bulan Di Kecamatan Biboki Utara Kabupaten Timor Tengah Utara Propinsi Nusa Tenggara Timur. Universitas Gadjah Mada.

Najahah, I., Adhi, K. T., & Pinatih, G. N. I. (2013). Faktor risiko balita stunting usia 12-36 bulan di Puskesmas Dasan Agung, Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Public Health and Preventive Medicine Archive. https://doi.org/10.15562/phpma.v1i2.171

Nct. (2014). Supplementing Iron and Development in Breastfed Infants (SIDBI Study). Https://Clinicaltrials.Gov/Show/NCT02242188.

Pengan, J., Kawengian, S., Rombot, D. V, Keshetana, F., Sam, M., & Manado, R. (2015). Hubungan Antara Riwayat Pemberian Asi Ekslusif Dengan Kejadian Stunting Pada Anak Usia 12-36 Bulan Di Wilayah Kerja Puskesmas Luwuk Kecamatan Luwuk Selatan Kabupaten Banggai Sulawesi Tengah, 8.

Prakoso, B. I. (2012). Hubungan Perilaku Ibu dalam Memenuhi Kebutuhan Gizi dan Tingkat Konsumsi Energi dengan Status Gizi Balita di Desa Cibeusi Kecamatan Jatinangor Kabupaten Sumedang. Fakultas Ilmu Keperawatan.

Riskesdas. (2013). Riset Kesehatan Dasar 2013, p. 306. https://doi.org/1 Desember 2013

Rolfes S, Pinna K, Whitney, E. (2009). An Overview in Nutrition. Understanding Nominal and Clinical Nutrition.

Sari, E. M., Juffrie, M., Nurani, N., & Sitaresmi, M. N. (2016). Asupan protein, kalsium dan fosfor pada anak stunting dan tidak stunting usia 24-59 bulan. Jurnal Gizi Klinik Indonesia. https://doi.org/10.22146/ijcn.23111

Siregar, R., Lilisianawati, Lestari, E. D., & Salimo, H. (2011). Effect of zinc suplementation on morbidity among stunted children in Indonesia. Paediatrica Indonesiana, 51(3), 51–128. https://doi.org/10.14238/pi

Suliastiningsih, A., & Madi, D. A. M. Y. (2013). Kurangnya asupan makan sebagai penyebab kejadian balita Pendek. Jurnal Dunia Kesehatan.

Supriasa. (2012). Penilaian Status Gizi Edisi Revisi. In Penerbit Buku Kedokteran: EGC.

Unicef. (2012). Ringkasan Kajian Air Bersih, Sanitasi & Kebersihan. Unicef Indoneisa.

Waryana. (2010). Gizi Reproduksi, Pustaka Rihama (1st ed.). yogyakarta: Pustaka Rihama.

WHO. (2015). Stunting in a Nutshell.

WHO. (2018). Prevalence of stunting in children under 5, 2018.





Copyright (c) 2020 Lidia Fitri, Evis Ritawani, Yollanda Mentiana

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.

Published by Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah X

Khatib Sulaiman Street Padang
West Sumatera
Phone: +62751705637
Fax: +62751705637
Email: [email protected]

E-ISSN : 2477-6521